Riset

Materi Riset kelas X dan XII IPS

Modernisasi

Modernisasi materi kelas XII

Blog Guru Sosiologi

Blog Guru Sosiologi Guru Inovatif

Kamis, 09 Maret 2023

Tugas : Materi konflik

 

Kejadian di asrama Kamasan pekan lalu memicu gelombang unjuk rasa menentang diskriminasi rasial, salah satunya di Jakarta, Kamis (22/08)

Simaklah artikel berikut  kemudian  jawablah pertanyaan di bawah ini: 

 Asrama Papua: Cek fakta kasus bendera merah putih dan makian rasialisme di Surabaya - BBC News Indonesia 

Pertanyaan: 

1. Menjelaskan peristiwa apakah dalam artikel tersebut?  

2.Bagaimana upaya preventif yang harus dilakukan oleh pemerintah agar kasus seperti di  atas tidak terjadi lagi? Jelaskan pendapat anda!

3. Jelaskan pendapat anda kasus dalam artikel termasuk konflik apa dan bagaimana upaya anda sebagai warga negara Indonesia seharusnya bersikap?

kerjakan di buku tulis anda !


 


Senin, 09 Januari 2023

MERAJUT HARMONI DALAM PERBEDAAN ( Memahami Multikulutralisme dan masyarakat multikultural)

  ( Memahami Multikulutralisme dan masyarakat multikultural)

sumber : https://image.slidesharecdn.com/multikulturalisme-170427034136/95/multikulturalisme-1-638.jpg?cb=1520097836

Sejarah multikulturalisme 

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Multikulturalisme atau kemajemukan budaya (berasal dari kata "multi" dan "kultural"; yang berarti "budaya yang majemuk")[1] adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan individu dengan individu lain atau perbedaan nilai-nilai yang dianut,[2] seperti perbedaan sistem, budaya, agama, kebiasaan, dan politik.

Definisi 

Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.[3]

  • “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)[4]
  • Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).[5]
  • Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174)[6]
  • Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000)[7]
  • Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).[8]
  • Sejarah Multikulturalisme

    Multikulturalisme bertentangan dengan monokulturalisme dan asimilasi yang telah menjadi norma dalam paradigma negara-bangsa (nation-state) sejak awal abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara normatif (istilah 'monokultural' juga dapat digunakan untuk menggambarkan homogenitas yang belum terwujud (pre-existing homogeneity). Sementara itu, asimilasi adalah timbulnya keinginan untuk bersatu antara dua atau lebih kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan sehingga tercipta sebuah kebudayaan baru.

    Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa-Inggris (English-speaking countries), yang dimulai di Afrika pada tahun 1999.[9] Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit.[butuh rujukan] Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Inggris dan Prancis, mulai mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan multikulturalisme.[10] Pengubahan kebijakan tersebut juga mulai menjadi subyek debat di Britania Raya dan Jerman, dan beberapa negara lainnya.

  • Jenis Multikulturalisme

    Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):

    1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat di mana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
    2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
    3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat di mana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
    4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
    5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.[11]



Multikultural di Indonesia 

sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtbqaKKGt7U4zy7IpL1RxAThma3Qyv4ys1fuWSNbM3A78cI2E3tO4yiuO-N_1EOvPdNBdzjGRnrb1aM-pykaVlDA73gUUatZlaeLTr1HEOeGBDQ69-IYSgm3aXGoaz1SdECf2Tcfp5_64/s1600/21.jpg

Sebagai sebuah negara dengan keanekaragaman dalam banyak hal, ditengarai Indonesia rawan terhadap konflik. Konflik adalah suatu hal yang amat niscaya dalam sebuah negara dengan berbagai perbedaan sedemikian itu. Sejatinya—jika saja kita menyadari—perbedaan yang memang sudah ada sejak lama di negara ini, bukanlah suatu hal yang harus dipertentangkan. Justru semua itu merupakan aset bangsa yang mesti disyukuri sebagai sebuah rahmat.

Bangsa Indonesia sudah ribuah tahun terbiasa hidup dalam perbedaan. Masalah SARA telah menjadi menu harian kehidupan masyarakat yang majemuk. Namun toh demikian, hingga sekarang bangsa ini masih tetap utuh berdiri tegak dalam bingkai NKRI. Hal ini menandakan bahwa rakyat Indonesia telah memiliki kesadaran cukup tinggi akan semangat multikulturalisme.

Multikulturalisme berasal dari dua kata, yaitu multi (banyak/beragam) dan kultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi dapat berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua bagian manusia terhadap kehidupannya yang kemudian melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa dan lain-lain.

Multikulturalisme adalah sebuah filosofi yang juga ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern.Bangsa Indonesia melalui para founding fathers, dengan amat briliant dan dengan kearifantelah lama mencermati dan mengantisipasi adanya berbagai perbedaan tersebut. Mereka telah merumuskan konsep multikulturalsime dalam bingkai nan amat elok melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Sebuah konsep yangme-ngandung makna yang luar biasa, baik makna secara eksplisit maupun implisit.

Secara eksplisit, semboyan tersebut merujuk pada keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa ini, sebagai sebuah bangsa yang multikultural akan tetapi bersatu dalam satu kesatuan yang kokoh.

Secara implisit “Bhineka Tunggal Ika” mampu memberikan dorongan moral dan spiritual kepada bangsa Indonesia untuk senantiasa bersatu padu  melawan segala bentukketidakadilan dan rongrongan dari pihak luar yang mencoba mengobok-obok bangsa ini.

Pancasila Sebagai Perekat

Indonesia memiliki Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pancasila adalah sebuah kenyataan sejarah yang tak dapat dipungkiri telah berkontribusi amat besar terhadap keberlangsungan bangsa hingga saat ini. Melalui Pancasila—bangsa Indonesia—dengan sila-sila yang terkandung di dalamnya mampu menampilkan sistesis harmonis antara berbagai keragaman yang ada di negeri ini; pluralitas agama, multikultural, kemajemukan etnis, serta ideologi sosial politik.

Pancasila—sebagai sebuah ideologi—oleh karenanya sangat diharapkan mampu menjadi jalan tengah sekaligus jembatan yang akan menjembatani perbedaan yang ada. Mampu mengakomodasikan seluruh kepentingan kelompok sosial yang multi etnis dan agama. Termasuk membuka diri dalam memberikan ruang berkembangnya ideologi sosial politik yang pluralistik.

Tatkala Indonesia mengalami transisi menuju demokrasi tahun 1998-1999, negara memberi ruang yang lebih luas kepada masyarakat untuk mengekspresikan identitas ideologis sosial politik yang diinginkan menurut kepentingan masing-masing. Segenap warga bangsa menyambut hal ini dengan penuh semangat dan suka cita, dikarenakan memperoleh kebebasan yang selama ini didambakan.

Dilain pihak muncul kekawatiran sementara pihak hal tersebut akan memunculkan ketegangan dan gesekan antar golongan. Bahkan sementara pengamat Barat meramalkan bahwa bangsa Indonesia berpotensi untuk mengalami “Balkanisasi”.

Kenyataannya hingga saat ini bangsa Indonesia masih kokoh bertahan dengan identitas kebangsaannya sebagai bangsa yang majemuk dengan beragam perbedaan, dan tetap berdiri tegak sebagai negara kesatuan yang berdaulat. Hal ini menunjukkan bahwa multikulturalisme telah lama berakar dan mendarah daging di benak warga bangsa Indonesia.

Landasan Multikulturalisme

Memperhatikan kondisi bangsa Indonesia terkini dan untuk mengatisipasi terjadinya disintegrasi bangsa, tampaknya pemerkuatan multikulturalisme merupakan hal yang mendesak. Pemerkuatan multikulturalisme agar berjalan efektif dan berdaya guna, kiranya perlu berlandaskan pada lima pilar berikut;

Pertama, berpegang pada kebenaran dan berusahamemperjuangkannya. Pengungkapkan kebenaran mesti dalam rangka kebaikan bersama tanpamengorbankan pihak lain. Kebenaran yang dipraktekkan dengan cara demikian akan dapat mengatasi sekat-sekat perbedaan  paham, aspirasi, ras, suku, ideologi bahkan keyakinan agama.

Kedua,melakukantugas dan kewajiban dengan orientasi demi kepentingan dan kebaikan masyarakat, bukan pribadi dan golongan. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya rasa cinta dan sikap patriot terhadap tanah air, bangsa dan negara.

Ketiga,menyebarkan rasa damai setiap saat yang bersumber dari ke-sadaran dan ketulusan. Memiliki visi yang memancarkan kesucian jiwa yangmenghasilkan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua. Tiada lagi pe-rasaan iri hati dan dengki, serta bisa memperlakukan semua anak bangsa secara adil tanpa dibayangi ikatan primordialisme.

Keempat,memupuk cinta kasih murni tanpa ego. Berjiwa besar, mengakui persaudaraan antar manusia, memperlakukan semua orang sebagai saudara dan mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri.

Kelima, cinta damai dan anti kekerasan. Kekerasan hanya akan me-ngundang munculnya kekerasan baru. Dengan anti kekerasan setiap orang atau kelompok sebagai komponen bangsa ini akan dapat menata diri seca-ra inklusif, mengedepankan penerimaan tanpa diskriminasi, serta menghindari persaingan yang  memicu konfik kepentingan.

Penutup

Perbedaan akan selalu muncul sebagai akibat adanya pluralitas budaya, etnis, sistem nilai dan agama. Perbedaan mesti disikapi dengan dialog demi menemukan titik temu dan konsensus bukan dengan kekerasan atau penghancuran satu dengan lainnya. Dalam konteks ini multikulturalisme relevan untuk diterapkan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Salam!

sumber :  Kompasiana.com




STRATEGI PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DAN KEARIFAN LOKAL ( Komunitas dan Masyarakat )

STRATEGI PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DAN KEARIFAN LOKAL 

  • Pengertian Komunitas 
    Perhatikan   gambar  komunitas tersebut di bawah !   

   sumber : https://www.travelclub.co.id/wp-content/uploads/2020/07/utama6-2048x1365.jpg
https://miro.medium.com/max/6016/0*WV3z9g0lySozW7HU.jpg

   sumber : http://www.rarebird.org/wp-content/uploads/2020/06/preview-12.jpg

   sumber : https://cdn.antaranews.com/cache/730x487/2019/10/15/WhatsApp-Image-2019-10-14-at-  03.41.01.jpeg

 1. apa yang dimaksud komunitas menurut anda berdasarkan penagmatan anda terhadap gambar di       atas?
2. Apa yang mendorong terjadinya komunitas tersebut menurut anda?
3. Menurut anda apakah yang paling menguatkan  solidaritas diantara mereka? 
4. Apa perbedaan komunitas dan masyarakat?  



sumber : https://www.youtube.com/watch?v=xtIwjH63yE0


sumber : https://www.youtube.com/watch?v=kWPL9XWgfRI



sumber : https://www.youtube.com/watch?v=oBLors-cozY





Senin, 02 Januari 2023

Lembaga Sosial

 



Assalamualaikum anak-anak bagiamana kabarnya semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan sebelum masuk pembelajaran saya ucapkan selamat tahun baru 2023 semoga kalian diberikan kemudahan dalam hidup dan meraih cita. Baiklah anak-anak kalian baca dengan seksama pertanyaan di bawah ini kemudian jawablah di buku kalian kemudian kirim di link berikut :  


Senin, 21 November 2022

Kumpulan Tugas Video Pembelajaran Sosiologi kelas XI IPS

 

1. Nama Anggota Kelompok : Sulis Setiawan, 



2. Nama Anggota Kelompok :  Zusron, Rava , ine ,
    Putri Nanda

 



3. Nama Anggota Kelompok: Adif,  Nabil as Syifa
    Ihda Salsa N-H , Septa Oktavia sari, Yesinta

4. Nama Anggota Kelompok : 





Selasa, 25 Oktober 2022

ANDA BUTUH KUE UNTUK HAJATAN?

 Yuuk pesen di sini saja ... Vokasi Tata Boga  MAN 6 Jombang ssiapp layani lho...!!!




     
     HUB : TATIK INDARWATI 
     (081357111149341)






MAN 6 MENYEDIAKAN PENYEWAAN BAJU DAUR ULANG DAN HASIL DAUR ULANG


Ayo kamu butuh untuk tampil  menarik dan unik di event  karnaval / acara lainnya ?
Yuuk sewa aja di MAN 6 Jombang!!!
Mari lihat koleksinya ...

Kamis, 20 Oktober 2022

BAB II : MASALAH SOSIAL (Kriteria Kemiskinan)

 BAB II : MASALAH SOSIAL (Kriteria Kemiskinan)

3.2. Mengidentifikasi berbagai permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat

4.2 Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi mengenai permasalahan sosial yang muncul di masyarakat

Tujuan Pembelajaran :

1. Siswa dapat mendeskrisikan kemiskinan sesuai teori yang dipelajari dengan benar

2. Siswa dapat menyebutkan indikator kemiskinan dengan benar

 

Karakter : memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitar


Apa sih miskin itu ?

      

Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenauhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan.

Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.

 

Pengertian Kemiskinan Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian kemiskinan menurut para ahli, terdiri atas:

 

1. Soerjono Soekanto

kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

 

2. Gillin dan Gillin

Kemiskinan adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mempertahankan skala hidup yang cukup tinggi untuk memberikan efisiensi fisik dan mental untuk memungkinkan dia dan keluarganya menjalankan fungsi sebagaimana mestinya sesuai dengan standar masyarakat baik karena pendapatan yang tidak memadai ataupun pengeluaran yang tidak bijaksana

 3. BAPPENAS

Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan karena keadaan yang tidak dapat dihindari oleh seseorang dengan kekuatan yang dimilikinya.

4. Suparlan

Kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah karena kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang bila dibandingkan dengan standar kehidupan yang berlaku di masyarakat sekitarnya.

    Nah sekarang menurut kalian bagimana kemiskinan itu sebutkan indikatornya (yang dikatakan miskin itu yang seperti apa sih? Tulislah jawaban kalian di kolom komentar!

 

Jumat, 14 Oktober 2022

Kumpulan tugas siswa bab Modernisasi,Globalisasi,Westernisasi (video pembelajaran)



 
Tugas : Gita Auliya dan Fitri Susanti  (XII-IPS2) 

                                                                                             

Kamis, 14 April 2022

Macam-Macam Konflik


Macam -Macam Konflik 


                   sumber : youtube.com (Tatik Indar)

Rabu, 26 Januari 2022

Prinsip Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat

 Prinsip Pelaksanaan Pemberdayaan   Masyarakat

 

Pemberdayaan merupakan upaya memberikan daya (empowerment) atau penguatan (strenghtening) kepada masyarakat  (Mardikanto; 2010;44). Menurut Ginanjar Kartasasmita (dalam Najiyati;2005:60), terdapat tiga upaya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan pemberdayaan. 

a. Mencipatakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat dapat selalu berkembang (enabling). Artinya, pemberdayaan menggali potensi masyarakat untuk dapat dikembangkan.

b. Memperkuat potensi daya yang memiliki masyarakat dengan menerapkan langkah-langkah nyata, menyediakan lingkungan, prasarana dan sarana fisik serta sosial. Artinya pemberdayaan membantu memfasilitasi msyarakat agar lebih berkembang.

Selasa, 25 Januari 2022

Daftar Link Buku Digital Interaktif


Daftar Link Buku Digital Interaktif Karya Tatik Indarwati:

1. Perubahan Sosial:  

https://bit.ly/Perubahan-Sosial  👈 klik link di samping !!!         sekilas tampilan klik 👇

Rabu, 19 Januari 2022

Tantangan Dalam Mewujudkan Masyarakat Multikultural

                                 Tantangan Dalam Mewujudkan Masyarakat Multikultural 

                                             Sumber : https://id.images.search.yahoo.com/

     Dalam  masyarakat multikultural kerap bermunculan sikap yang negatif terhadap anggota ataupun kelompok lain yang berbeda. Berbagai sikap tersebut menjadikan tantangan bagi masyarakat multikultural. 

a. Prasangka (Prejudice)

    Prasangka merupakan suatu sikap yang tidak suka terhadap orang atau kelompok  lain atas dugaan yang tidak dilandasi dengan kemampuan ,wawasan, pengalaman yang memadai sehingga  muncullah berbagai dugaan yang tidak benar. contoh prasangka adalah sebagai berikut :

1). Pandangan laki-laki terhadap perempuan bahwa perempuan adalah individu yang sukar   mengendalikan emosi dan cerewet.

2). Pandangan orang kulit putih di Amerika yang melihat orang kulit hitam cenderung berperilaku kasar, agresif dan meyimpang.

b. Stereotip (stereotype)

    Stereotip erat kaitannya dengan prasangka. Orang yang menganut stereotip akan lebih mudah berprasangka kepada orang lain karena bukan fakta dan kebenaran yang dijadikan landasan dalam bersikap. Stereotip muncul karena orang bersifat terlalu menyederhanakan dan tidak peka terhadap fakta obyektif (Walgito, 2008).   

    Sunarto dan Walgito (2012) mengungkapkan bahwa berbagai sikap di atas ditunjukkan dengan sejumlah perilaku sebagai berikut :

a. Deskriminasi 

      Deskriminasi  adalah perlakuan berbeda yang ditunjukkan pada individu atau suatu kelompok dengan ciri-ciri tertentu:

1). Primordialisme 

     Primordialisme merupakan sebuah pandangan atau paham yang memegang erat hal-hal yang dibawa sejak kecil. Baik itu mengenai adat-istiadat, tradisi, kepercayaan, dan hal lain yang sudah ada di dalam lingkungan pertamanya.

Paham tersebut merupakan faktor penting yang digunakan sebagai identitas sebuah masyarakat atau golongan.

2). Etnosentrisme 

        Aadalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai sosial dan standar budaya sendiri. Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, khususnya bila berkaitan dengan bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama. Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa. Etnosentrisme mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.

3). Rasisme

          Adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

4). Seksisme  

       Seksisme adalah prasangka yang didasarkan pada gender. Seksisme sering kali ditujukan pada wanita, sehingga yang dimaksud disini adalah adanya penilaian negatif terhadap seseorang karena seseorang tersebut adalah wanita. Begitupun sebaliknya.

b. Jarak Sosial 

          Dalam hal ini suatu kelompok membatasi diri  dalam pergaulan dan menjaga jarak. perilaku tersebut ditunjukkan dengan beberapa indikator  sebagai berikut :

1. Perilaku endogami : yakni pernikahan yang dilakukan dengan anggota kelompok sendiri

2. Perilaku berteman atau bergaul, misalnya hanya berteman dengan anggota kelompoknya sendiri

3. Perilaku bermukim yaitu hanya mau tinggal di tempat  yang dihuni oleh orang-orang yang sama dengannya atau satu kelompok dengannya.

Tugas !!!

1. Buatlah 4 contoh dari beberapa sikap di atas !

2. Bagaimana sikap yang harus kalian miliki untuk menyikapi atau terhindar dari sikap-sikap negatif di atas?

kerjakan tugas dibuku kalian dan dikumpulkan ketika kita masuk tatap muka.